Wednesday, March 16, 2016

Kompilasi MUSIKINI VOL. 1 Proklamasi Visioner Musisi Semarang



Kompilasi MUSIKINI VOL. 1
Proklamasi Visioner Musisi Semarang



 
Semarang, 11 Desember 2015 -- Ibarat mencari harta karun di dasar laut, perlu perjuangan dan keberanian untuk menjelajah dalamnya lautan. Perumpamaan itu menjadi kredo pertama, ketika menggagas satu ide “liar” bernama Kompilasi MUSIKINI VOL.1.  Melalui permenungan dan “kenekatan” akhirnya harta karun itu tertemukan. Harta itu adalah 10 musisi yang ada di kompilasi ini.

TAK PERNAH terpikirkan sebelumnya, bahwa apa yang awalnya sekadar obrolan warung kopi, akhirnya bergulir menjadi bola salju yang membesar. Semarang sebagai ibukota Jawa Tengah selalu ini masih sering dianggap sebagai “kota numpang lewat” oleh banyak promotor atau musisi berkelas nasional atau internasional. Kegelisahan melihat hal itu, membuat beberapa “orang gila” yang cinta musik, menggagas audisi untuk menemukan musisi yang  kelak diharapkan bisa jadi personifikasi kualitas anak Semarang. Dan akhirnya, 11 Desember 2015, kompilasi ini resmi dirilis.

“Saya banyak mendengar beberapa musisi di Jakarta berasal dari Semarang, tapi saya jarang menemukan talenta yang lahir di kota Semarang. Ketika kemudian diajak terlibat jadi juri dan menggarap proses produksinya, saya langsung antusias. Dan hasilnya mengejutkan, karena ternyata keren-keren!” repet Ully Dalimunthe, musisi senior Jakarta, yang didapuk jadi music director kompilasi ini.

Visi yang tidak kalah mentereng dijejalkan oleh Ausi Kurnia Kawoco, penggagas awal yang juga executive producer. Pria yang bekerja di Jakarta dan pernah ngeband di Semarang ini punya mimpi “menasionalkan Semarang” lewat musik. “Paling tidak, langkah kecil yang saya dan kawan-kawan lakukan ini bisa membuka mata kita, saat dilakukan dengan matang, serius dan bersahabat, musisi Semarang punya potensi yang harusnya melesat sejak dulu,” kata musisi “nanggung” yang kerap membetot bass ketika di panggung ini.

Dua pendapat di atas, diaminkan oleh Djoko Moernantyo, jurnalis dan penulis buku musik di Jakarta. Menurut pria asli Semarang ini, selama hampir 20 tahun menjadi jurnalis musik di Jakarta, “nyaris” tidak ada band asal Semarang yang benar-benar jadi meteor. “Saya merasa berdosa ketika menyadari tidak banyak berbuat apa-apa untuk kota kelahiran saya, khususnya di musik. Ketika akhirnya menggagas kompilasi ini, semua hal yang saya tahu tentang industri musik, tertumpah semua,” celetuk pria asal Srondol Kulon yang dipajang sebagai co-producer.

Kompilasi ini memang tidak tersegmentasi pada satu genre tertentu. Gado-gado mungkin istilahnya. Alasannya adalah: ini saatnya bergandengan tangan antar genre, bukan saatnya melambungkan fanatisme genre. “Akan sangat menggelikan, kalau masih ada musisi yang sombong dan merasa genrenya adalah yang paling hebat diantara genre lain,” imbuh Djoko.

Alhasil, Kompilasi MUSIKINI VOL.1 ini akhirnya disusupi Bello [pop], Rentdo [pop-rock], D’Jawir [dangdut], 2ND Clan [hip-hop], Adam Suraja [pop], Sunday Sad Story [metal hardcore], Giga of Spirit [Japanesse Rock], Distorsi Akustik [indie-pop], New Face New Wave [pop-punk], The Jaka Plus [pop-retro].Satu “harta karun” yang selama masih “tertimbun” di dasar laut.  Mereka mungkin bukan yang terbaik, tapi paling tidak yang paling siap dengan karya dan musikalitasnya. Selain itu, musisi-musisi di atas juga merasakan bagaimana membuat video klip secara baik dan profesional. 

“Banyak pengalaman baru yang saya dapat. Bagaimana bermusik dengan baik dan profesional, dan belajar menghargai musisi lain. Saya juga merasa di-uwongke ketika bergaul dengan genre lain yang nota bene fansnya sudah banyak,” aku Azali, vokalis D’Jawir, satu-satunya band dangdut yang masuk di kompilasi ini.  Pendapat Azali dimainkan oleh Almando Charles, gitaris Sunday Sad Story. “Senang bisabertemu dengan musisi-musisi hebat lainnya. Yang paling berkesan ketika ikut media coaching, jadi pengalaman pertama sejak band ini terbentuk,” papar personel band hardcore ini kalem.

“Bergabung di kompilasi ini, membuat saya makin paham industri musik itu seperti apa. Apalagi penggagas-penggagasnya ternyata adalah senior-senior di industri musik yang tidak pelit berbagi pengalaman,” kata Alex Moniaga, vokalis Bello yang mengaku berkesan ketika menggarap video klip bareng sutradara Dedy Ginanjar Raksawardana. “Kang Dedy profesional dan sangattime schedule,” imbuhnya.

Yang penting dicermati adalah Kompilasi MUSIKINI VOL.1 ini tidak menciptakan komunitas baru, tapi mengajak komunitas lintas genre yang ada di Semarang untuk sama-sama guyub dan bersenang-senang menikmati musik. “Yang saya suka dan rasakan akhirnya, kami di kompilasi ini bisa sama-sama menikmati musik itu sendiri tanpa pusing genre apa yang dia dengar.  Siapapun kelak yang sukses, kami sepakat untuk memberi dukungan,” tegas Vico Yudha, vokalis Distorsi Akustik ikut berkomentar.

Akhirnya, visi penggagasnya untuk musisi Semarang, hanya akan jadi utopis semata, kalau tidak didukung oleh musisinya sendiri. Akhirnya juga tak sekadar jadi musisi berkelas nasional, tapi bagaimana berani bersikap, berani ambil pilihan, dan berani berkarya dengan jujur.  Dan Kompilasi MUSIKINI VOL.1 sudah memulai proklamasi visionernya.  Berani?

TENTANG KOMPILASI MUSIKINI VOL.1

Digagas oleh Ausi Kurnia Kawoco, salah satu pecinta musik asal Semarang bersama Djoko Moernantyo, wartawan musik nasional asal Semarang, kompilasi ini menjaring band-band local dengan melibatkan musisi dan jurnalis musik nasional di Jakarta. Audisi dari Januari – Maret 2015 melahirkan 10 band yang masuk dalam kompilasi [yang akhirnya] bernama Kompilasi MUSIKINI VOL. 1.  10 band itu kemudian melakukan recording ulang dengan music director Ully Dalimunthe [MD-nya Dewi Sandra, Ari Lasso, Bunglon, Anang Hermansyah, Debrur, Ziva, dll] yang bekerjasama dengan Adi Oebant di Strato Studio Music Semarang. Melibatkan semua genre, kompilasi ini merangkul banyak pihak untuk menjadi salah satu kompilasi yang layak diperhitungkan dan tidak dikerjakan dengan setengah-setengah.

Info Lengkap, Hubungi:

Djoko Moernantyo – co producer                                                             Pepen Blues - manager
Email: jokoisme@gmail.com                                                                       Email: pepbluez@gmail.com
Phone: 0817-693-7174                                                                                    Phone: 0857-2777-0414



THE JAKA PLUS & YOVIE

                Tahun 2008 menjadi awal terbentuknya band ini berdiri, sering gonta ganti personil band, the jaka plus tak pernah terpecah arah untuk tetap berkarya di dunia music, terbukti sudah 2 album mereka selesaikan (Rani, Yovie). Akhir tahun ini menjadi kado special buat mereka karena lagu mereka masuk di dalam kompilasi paling mengerikan yang ada di Semarang yaitu “KOMPILASI MUSIKINI VOL.1”. Lagu yg terpilih sebagai jejeran line-up album tersebut adalah lagu dengan judul “Yovie” yg diambil dari album ke 2 mereka dengan nama album yang sama.

                The Jaka Plus bukan merupakan band yang biasa biasa saja, mereka patut diperhitungkan karena prestasi yang diperolehnya di kancah nasional maupun internasional. Pernah menjadi nominasi best rock song dalam ajang VIMA 2013 (Voice Independent Music Awards - South East Asian) dan menjadi bagian kompilasi Music For Brighter Day Part.6 (Kompilasi 3 benua Asia – Australia – Europa), 10 besar Finalist JIMFEST 2014, 50 Besar MeettheLabels 2013, Juara Kompetisi Jingle Hutan 2014, Menjuarai beberapa chart indie dalam beberapa minggu di beberapa radio di Indonesia, dan banyak lagi bila harus diceritakan, menjadi pertimbangan serius bagi TIM MUSIKINI untuk memilih The Jaka Plus masuk dalam kompilasi Musikini Vol.1, selain memang materi lagu nya yang keren terlebih dahulu.
               
                Berbicara tentang lagu mereka “Yovie”, ini bisa dikisahkan dengan pengalaman kita pribadi masing masing, bahkan seorang playboy pun pasti pernah merasakannya. Cinta pada pandangan pertama, ingin berkenalan tapi malu, ingin menarik perhatian, mungkin menjadi keyword dalam lagu ini. Selain itu jenis music yang mereka mainkan sangat erat dengan sound retro, chord yang dipilih pun unik, dan suara serak serak berat dari sang vocalis menjadi ciri khas tertentu dari lagu ini. Di tambah dengan tangan dingin Ully Dalimunthe (music director) yang sudah berpengalaman dengan artis nasional sekelas (ari lasso, dewi sandra, naff, anang & KD, bunglon dll) tentunya lagu ini punya nyawa yang lebih hidup lagi.

Di musikini selain menawarkan audio, juga memberikan visualisasi untuk lagu lagu mereka, ya… Video Clip dari masing masing band telah dibuat oleh Dedhy Raksawardhana-ex naff (Air Studio). The Jaka Plus sendiri mengambil konsep yang antimainstream, mungkin bagi orang yang tidak tau tentang editing video menganggap video ini sangat membosankan, tapi ini lah langkah berani mereka untuk lebih memberikan warna dalam industry music. Mengambil tema “bercinta dengan bayangan”, The Jaka Plus tampak sangat menikmati di dalam clip garapan Dedhy ini.

Terima kasih telah menerima, mendengarkan, memutarkan lagu yang kami kirim, dan mempublikasikan profile kami, lagu ini adalah salah satu andalan di album KOMPILASI MUSIKINI VOL.1. semoga berkenan di hati anda.



No comments:

Post a Comment