Kompilasi MUSIKINI VOL. 1
Proklamasi Visioner Musisi Semarang
Semarang, 11
Desember 2015 -- Ibarat mencari harta
karun di dasar laut, perlu perjuangan dan keberanian untuk menjelajah dalamnya
lautan. Perumpamaan itu menjadi kredo pertama,
ketika menggagas satu ide “liar” bernama Kompilasi MUSIKINI
VOL.1. Melalui permenungan dan
“kenekatan” akhirnya harta karun itu tertemukan. Harta itu adalah 10 musisi
yang ada di kompilasi ini.
TAK PERNAH terpikirkan
sebelumnya, bahwa apa yang awalnya sekadar obrolan warung kopi, akhirnya
bergulir menjadi bola salju yang membesar. Semarang sebagai ibukota Jawa Tengah
selalu ini masih sering dianggap sebagai “kota numpang lewat” oleh banyak
promotor atau musisi berkelas nasional atau internasional. Kegelisahan melihat
hal itu, membuat beberapa “orang gila” yang cinta musik, menggagas audisi untuk
menemukan musisi yang kelak diharapkan
bisa jadi personifikasi kualitas anak Semarang. Dan akhirnya, 11 Desember 2015,
kompilasi ini resmi dirilis.
“Saya banyak mendengar beberapa musisi di
Jakarta berasal dari Semarang, tapi saya jarang menemukan talenta yang lahir di
kota Semarang. Ketika kemudian diajak terlibat jadi juri dan menggarap proses
produksinya, saya langsung antusias. Dan hasilnya mengejutkan, karena ternyata keren-keren!”
repet Ully Dalimunthe, musisi senior
Jakarta, yang didapuk jadi music director
kompilasi ini.
Visi yang tidak
kalah mentereng dijejalkan oleh Ausi
Kurnia Kawoco, penggagas awal yang juga executive
producer. Pria yang bekerja di Jakarta dan pernah ngeband di Semarang ini
punya mimpi “menasionalkan Semarang” lewat musik. “Paling tidak, langkah kecil yang saya dan kawan-kawan lakukan ini bisa
membuka mata kita, saat dilakukan dengan matang, serius dan bersahabat, musisi
Semarang punya potensi yang harusnya melesat sejak dulu,” kata musisi
“nanggung” yang kerap membetot bass ketika di panggung ini.
Dua pendapat di
atas, diaminkan oleh Djoko Moernantyo,
jurnalis dan penulis buku musik di Jakarta. Menurut pria asli Semarang ini,
selama hampir 20 tahun menjadi jurnalis musik di Jakarta, “nyaris” tidak ada
band asal Semarang yang benar-benar jadi meteor. “Saya merasa berdosa ketika menyadari tidak banyak berbuat apa-apa untuk
kota kelahiran saya, khususnya di musik. Ketika akhirnya menggagas kompilasi ini,
semua hal yang saya tahu tentang industri musik, tertumpah semua,” celetuk pria
asal Srondol Kulon yang dipajang sebagai co-producer.
Kompilasi ini
memang tidak tersegmentasi pada satu genre tertentu. Gado-gado mungkin
istilahnya. Alasannya adalah: ini saatnya bergandengan tangan antar genre,
bukan saatnya melambungkan fanatisme genre. “Akan sangat menggelikan, kalau masih ada musisi yang sombong dan merasa
genrenya adalah yang paling hebat diantara genre lain,” imbuh Djoko.
Alhasil, Kompilasi MUSIKINI VOL.1 ini akhirnya
disusupi Bello
[pop], Rentdo [pop-rock], D’Jawir [dangdut], 2ND Clan [hip-hop], Adam Suraja
[pop], Sunday Sad Story [metal hardcore], Giga of Spirit [Japanesse Rock],
Distorsi Akustik [indie-pop], New Face New Wave [pop-punk], The Jaka Plus
[pop-retro].Satu “harta karun” yang selama masih “tertimbun” di
dasar laut. Mereka mungkin bukan yang
terbaik, tapi paling tidak yang paling siap dengan karya dan musikalitasnya. Selain
itu, musisi-musisi di atas juga merasakan bagaimana membuat video klip secara
baik dan profesional.
“Banyak pengalaman baru yang saya dapat.
Bagaimana bermusik dengan baik dan profesional, dan belajar menghargai musisi
lain. Saya juga merasa di-uwongke ketika
bergaul dengan genre lain yang nota bene fansnya sudah banyak,” aku Azali, vokalis
D’Jawir, satu-satunya band dangdut yang masuk di kompilasi ini. Pendapat Azali dimainkan oleh Almando Charles, gitaris Sunday Sad Story. “Senang
bisabertemu dengan musisi-musisi hebat lainnya. Yang paling berkesan ketika
ikut media coaching, jadi pengalaman pertama sejak
band ini terbentuk,” papar personel band hardcore ini kalem.
“Bergabung di kompilasi ini,
membuat saya makin paham industri musik itu seperti apa. Apalagi
penggagas-penggagasnya ternyata adalah senior-senior di industri musik yang
tidak pelit berbagi pengalaman,” kata Alex Moniaga, vokalis Bello yang
mengaku berkesan ketika menggarap video klip bareng sutradara Dedy Ginanjar
Raksawardana. “Kang Dedy profesional dan
sangattime schedule,” imbuhnya.
Yang penting dicermati
adalah Kompilasi MUSIKINI VOL.1 ini
tidak menciptakan komunitas baru, tapi mengajak komunitas lintas genre yang ada
di Semarang untuk sama-sama guyub dan
bersenang-senang menikmati musik. “Yang
saya suka dan rasakan akhirnya, kami di kompilasi ini bisa sama-sama menikmati
musik itu sendiri tanpa pusing genre apa yang dia dengar. Siapapun kelak yang sukses, kami sepakat
untuk memberi dukungan,” tegas Vico
Yudha, vokalis Distorsi Akustik ikut berkomentar.
Akhirnya, visi
penggagasnya untuk musisi Semarang, hanya akan jadi utopis semata, kalau tidak
didukung oleh musisinya sendiri. Akhirnya juga tak sekadar jadi musisi berkelas
nasional, tapi bagaimana berani bersikap, berani ambil pilihan, dan berani
berkarya dengan jujur. Dan Kompilasi MUSIKINI VOL.1 sudah memulai proklamasi visionernya. Berani?
TENTANG KOMPILASI MUSIKINI VOL.1
Digagas oleh
Ausi Kurnia Kawoco, salah satu pecinta musik asal Semarang bersama Djoko
Moernantyo, wartawan musik nasional asal Semarang, kompilasi ini menjaring
band-band local dengan melibatkan musisi dan jurnalis musik nasional di
Jakarta. Audisi dari Januari – Maret 2015 melahirkan 10 band yang masuk dalam
kompilasi [yang akhirnya] bernama Kompilasi
MUSIKINI VOL. 1. 10 band itu
kemudian melakukan recording ulang
dengan music director Ully Dalimunthe
[MD-nya Dewi Sandra, Ari Lasso, Bunglon, Anang Hermansyah, Debrur, Ziva, dll]
yang bekerjasama dengan Adi Oebant di Strato Studio Music Semarang. Melibatkan
semua genre, kompilasi ini merangkul banyak pihak untuk menjadi salah satu
kompilasi yang layak diperhitungkan dan tidak dikerjakan dengan
setengah-setengah.
Info Lengkap, Hubungi:
Djoko Moernantyo – co producer Pepen Blues - manager
Email: jokoisme@gmail.com Email:
pepbluez@gmail.com
Phone: 0817-693-7174 Phone:
0857-2777-0414
THE JAKA PLUS & YOVIE
Tahun 2008 menjadi
awal terbentuknya band ini berdiri, sering gonta ganti personil band, the jaka
plus tak pernah terpecah arah untuk tetap berkarya di dunia music, terbukti
sudah 2 album mereka selesaikan (Rani, Yovie). Akhir tahun ini menjadi kado
special buat mereka karena lagu mereka masuk di dalam kompilasi paling
mengerikan yang ada di Semarang yaitu “KOMPILASI MUSIKINI VOL.1”. Lagu yg
terpilih sebagai jejeran line-up album tersebut adalah lagu dengan judul
“Yovie” yg diambil dari album ke 2 mereka dengan nama album yang sama.
The Jaka Plus bukan
merupakan band yang biasa biasa saja, mereka patut diperhitungkan karena prestasi
yang diperolehnya di kancah nasional maupun internasional. Pernah menjadi
nominasi best rock song dalam ajang
VIMA 2013 (Voice Independent Music Awards - South East Asian) dan menjadi
bagian kompilasi Music For Brighter Day Part.6 (Kompilasi 3 benua Asia – Australia
– Europa), 10 besar Finalist JIMFEST 2014, 50 Besar MeettheLabels 2013, Juara
Kompetisi Jingle Hutan 2014, Menjuarai beberapa chart indie dalam beberapa
minggu di beberapa radio di Indonesia, dan banyak lagi bila harus diceritakan,
menjadi pertimbangan serius bagi TIM MUSIKINI untuk memilih The Jaka Plus masuk
dalam kompilasi Musikini Vol.1, selain memang materi lagu nya yang keren
terlebih dahulu.
Berbicara tentang
lagu mereka “Yovie”, ini bisa dikisahkan dengan pengalaman kita pribadi masing
masing, bahkan seorang playboy pun pasti pernah merasakannya. Cinta pada
pandangan pertama, ingin berkenalan tapi malu, ingin menarik perhatian, mungkin
menjadi keyword dalam lagu ini. Selain itu jenis music yang mereka mainkan
sangat erat dengan sound retro, chord yang dipilih pun unik, dan suara serak
serak berat dari sang vocalis menjadi ciri khas tertentu dari lagu ini. Di
tambah dengan tangan dingin Ully Dalimunthe (music director) yang sudah
berpengalaman dengan artis nasional sekelas (ari lasso, dewi sandra, naff,
anang & KD, bunglon dll) tentunya lagu ini punya nyawa yang lebih hidup
lagi.
Di musikini selain menawarkan audio, juga
memberikan visualisasi untuk lagu lagu mereka, ya… Video Clip dari masing
masing band telah dibuat oleh Dedhy Raksawardhana-ex naff (Air Studio). The
Jaka Plus sendiri mengambil konsep yang antimainstream, mungkin bagi orang yang
tidak tau tentang editing video menganggap video ini sangat membosankan, tapi
ini lah langkah berani mereka untuk lebih memberikan warna dalam industry
music. Mengambil tema “bercinta dengan bayangan”, The Jaka Plus tampak sangat
menikmati di dalam clip garapan Dedhy ini.
Terima kasih telah menerima, mendengarkan,
memutarkan lagu yang kami kirim, dan mempublikasikan profile kami, lagu ini adalah
salah satu andalan di album KOMPILASI MUSIKINI VOL.1. semoga berkenan di hati
anda.



